Rabu, 08 Mei 2019

Mahasiswa Teknik Sipil UCY Saksikan Detik-Detik Pendaratan Pesawat Pertama di Bandara YIA


Hari kamis, 2 mei 2019 mahasiswa Teknik Sipil UCY sejumlah 63 orang melakukan kuliah kerja lapangan (KKL) di Proyek Pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai kegiatan lanjutan seminar sebelumnya. Dalam penjelasannya, Pak  Gani sebagai manajer lapangan PT.  Angkasa Pura menjelaskan bahwa pembangunan bandara ini merupakan yang terbesar di Indonesia. “Alasan dibangunnya bandara ini karena kemacetan transportasi di Bandara Adisutjipto  milik TNI AU dan keterbatasan kawasan dalam pengembangan terutama panjang runway. Selama ini kami menyewa sehingga saat ada penerbangan latihan TNI AU maka pesawat komersil komersil berhenti sementara. Sementara runway di bandara tersebut tidak dapat diperpanjang karena adanya penghalang jembatan Janti  dan sungai   di sisi barat dan Gunung Boko di timur. Kondisi itulah maka perlunya dibangun YIA”, tambahnya. Disampaikan pula progres pembangunan bandara YIA cukup ketat, dan hari ini 2 Mei 2019 akan dilakukan uji kedatangan dan penerbangan pertama. “UCY bersyukur karena hari ini nanti kalian dapat menyaksikan uji landing dan take off pesawat pertama kali di bandara YIA”.

Dalam kesempatan tersebut melalui gedung Fire Station di lantai 4, bersama dengan beberapa pihak terkait menyaksikan saat-saat pertama kali pendaratan pesawat yang kemudian selang beberapa menit dilakukan penerbangan pesawat. Semua yang menyaksikan bertepuk tangan atas keberhasilan tersebut. Tim PT. Angkasa Pura, Kontraktor PT. Pembangunan Perumahan Tbk, Tim Pemadam Kebakaran dan peserta UCY saling mengucapkan selamat atas keberhasilan uji coba tersebut. Sebagai bentuk ucapan Dekan Fakultas Teknik UCY , Ir. Erlina, MT. memberikan simbol berupa plakat kepada Manajer Lapangan PT. Angkasa Pura, Gani. “ Pak Gani, kami dari UCY turut bangga atas prestasi ini karena akan berdampak pada peningkatan DIY baik ekonomi, pendidikan maupun pariwisata”, tutur Erlina. Dengan kehadiran mahasiswa di lokasi proyek ini akan sangat bermanfaat memberikan gambaran nyata perkembangan teknologi yang belum sempat diterima di meja kuliah.
Dijelaskan tentang pekerjaan konstruksi underpass oleh Ir. Indra Suharyanto, MT. sebagai tim proyek sekaligus dosen UCY. Underpass tersebut merupakan jalan Daendeles yang ruasnya melintas di bandara sehingga dibuat dengan model jalan bawah tanah atau underpass untuk menghindari kemacetan lalu lintas.

Proyek YIA dengan luas terminal 210.000 m2, panjang runway 3.250 m x 45 m, apron 23 parking stand luas : 159.140 m2 , diharapkan dalam 3-5 tahun tercapai 14 mil penumpang, namun dalam 10 tahun mendatang diperkirakan bisa 25 mill penumpang. Pekerjaan tanah dan infrastruktur Bandara YIA dikerjakan oleh PT. PP. Beberapa gedung saat kunjungan lapangan masih dalam proses penyelesaian.









Baca Selengkapnya »»  

Senin, 06 Mei 2019

Fakultas Teknik Gelar Seminar Internasional Low Carbon Eco District

Bertempat di Auditorium Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY), Sabtu 13 April 2019, diselenggarakan Seminar Internasional tentang Low Carbon Eco District sebagai kepedulian terhadap lingkungan untuk memerangi pemanasan global. Dalam penuturannya, Dekan FT, Ir. Erlina, MT, menyampaikan bahwa UCY sebagai perguruan tinggi perlu membekali wawasan mahasiswa dan masyarakat pentingnya penataan lingkungan yang baik seperti Low Carbon, Eco green, Eco Building, Eco Energy dan Eco lainnya yang akan bermanfaat bagi generasi penerus.

Sebagai Keynote Speaker, Mr. Matthieu Caille, M.Sc. dari Green Building Low Carbon Eco District- French Agency Environment And Energy Management (ADEME Perancis) memaparkan bahwa Indonesia adalah negara terpadat ke-4 di dunia dan salah satu penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Untuk memerangi perubahan iklim dan berkontribusi pada upaya seluruh dunia yang diprakarsai dengan penandatanganan Perjanjian Paris, Indonesia telah menetapkan berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK-nya. hingga 29% pada tahun 2030.

Kota-kota di Indonesia memiliki dampak penting dan negatif terhadap total emisi GRK di Indonesia, dan tampak jelas bahwa mencari solusi untuk mengurangi emisi GRK di Indonesia dimulai dengan mengurangi emisi GRK di kota-kota di Indonesia. Untuk menghindari permasalahan itu dibutuhkan penyadaran bersama semua elemen baik pemerintah, masyarakat, pelaku industri dan kampus seperti UCY untuk mulai dari hal yang paling sederhana, seperti mengubah kebiasaan selalu menggunakan kendaraan bermotor, mengurangi sampah, menanam pohon, merancang perumahan secara vertikal dengan efisien energi listrik, memanfaatkan ruang bangunan untuk penghijauan, dan semua pola eco-green.
Sebagai bagian dari kerja sama dalam urbanisme berkelanjutan antara Prancis dan Indonesia, Program Low Carbon Eco District (LCED) telah dimulai pada tahun 2017 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Indonesia untuk merefleksikan dan menemukan solusi tentang cara mendesain, merencanakan dan mengimplementasikan solusi rendah karbon pada skala bangunan perkotaan di Kota Yogyakarta.
Menurut Ir. Nurokhman, MT sebagai pembicara lain, dipaparkan hasil penelitain terkait Kota Yogyakarta sebagai wilayah Kawasan Startegis Pariwisata Nasional maka penataan permukiman kumuh bantaran Sungai Gajahwong masih perlu penyelesaian kompromi ruang sempadan sungai, pemanfaatan air sungai untuk semua tidak tercemar, dan penyediaan sarana prasarana permukiman yang partisipatif agar bisa berkelanjutan dan potensi pendukung destinasi wisata. Permasalahan pembongkaran beberapa rumah yang tidak tertata untuk mundur minimal 3 meter dari talud sungai yang kemudian oleh program PTSL menjadi penataan yang sinergi. Dampak kegiatan tersebut aksesibilitas, penyediaan sarana dasar warga  dan ruang terbuka publik telah tersedia yang berdampak pada pengembangan perekonomian warga bantaran. Penyadaran pentingnya sungai sebagai bagian dari kehidupan kita perlu didukung oleh semua pihak walaupun kadang regulasi yang ada membatasi ruang gerak program.
Dalam diskusi seminar ini dihadiri juga dari World Bank (Paulus Bawole) dan Dinas PUPKP Kota Yogyakarta, Sigit Setiawan. Mereka berpendapat konsep Low Carbon Eco District perlu dikemas agar dapat diimplementasi hingga tingkat basis atau warga bawah dan kompromi garis sempadan sebagaimana yang diatur dalam KemenPUPR Nomor 28 tahun 2015 telah dilakukan focus group discussion oleh beberapa OPD terkait mengingat keberadaan rumah warga lebih dulu daraipada aturannya dimana garis sempadan sungai dipertimbangkan terhadap kajian teknis, kearifan lokal, dan kondisi eksisting. 
  

Baca Selengkapnya »»